Studio Tangkas - Pasukan militer federal Ethiopia. (Twitter.com/abenezer degu)


Desakandan seruan untuk perdamaian antara pasukan federal pemerintah Ethiopia dan Tigrayan People's Liberation Front (TPLF) belum terungkap. Ekspansi pasukan TPLF yang telah meninggalkan wilayah Tigray dan berekspansi ke wilayah Amhara, sebenarnya telah menjadi ancaman serius.


Dalam laporan terbaru, pasukan TPLF awal bulan ini diduga telah membunuh sekitar 120 warga sipil di dekat distrik Dabat, Amhara. Ini adalah laporan besar pertama di mana pasukan TPLF diduga membunuh warga sipil.


Pembunuhan warga sipil oleh pasukan TPLF


"Sejauh ini kami telah menemukan 120 mayat. Mereka semua adalah petani yang tidak bersalah. Tapi kami pikir jumlahnya mungkin lebih tinggi. Ada orang yang hilang," kata Sewnet Wubalem, seorang pejabat Dabat setempat, yang diwawancarai melalui telepon oleh Reuters. Dabat terletak sekitar 730 kilometer barat laut ibu kota Addis Ababa.


Dalam penjelasan yang diberikan pejabat setempat, pasukan TPLF sempat hadir di lokasi dan warga melakukan perlawanan selama lima hari. TPLF yang mendapat perlawanan, mereka mundur sambil membunuh warga sipil yang ditemui di jalan.


Informasi tersebut didapat dari penjelasan Wubet Fekrematiam, pria berseragam militer. Dia berkata, "Kami bertempur selama lima hari dan mereka mundur. Ketika mereka mundur, mereka membunuh orang-orang kami yang mereka temukan di jalan."


Perang yang pecah antara pemerintah federal Ethiopia dan TPLF, kekuatan politik yang menguasai wilayah Tigray selama 10 bulan terakhir, telah menimbulkan kekhawatiran yang lebih besar lagi. Itu karena TPLF telah membuka front pertempuran baru di wilayah lain, yaitu Afar di timur dan Amhara di barat.


Anak-anak, wanita dan sesepuh agama menjadi sasaran

https://twitter.com/AFPAfrica/status/1435606715672768513?ref_src=twsrc%5Etfw%7Ctwcamp%5Etweetembed%7Ctwterm%5E1435606715672768513%7Ctwgr%5E%7Ctwcon%5Es1_&ref_url=https%3A%2F%2Fwww.idntimes.com%2Fnews%2Fworld%2Fpri-145%2Fethiopia-pasukan-tplf-diduga-bunuh-ratusan-warga-amhara-c1c2


Serangan yang dilakukan oleh pasukan TPLF di wilayah Amhara itu juga terjadi di dekat kota Gondar, yang berjarak sekitar 75 kilometer selatan Dabat. TPLF dilaporkan mencoba untuk menguasai kota, tetapi mendapat perlawanan dari pasukan Ethiopia.


Serangan dimulai dari 27 Agustus hingga awal September. Pasukan Ethiopia berusaha menjaga kota agar tidak jatuh ke tangan pejuang TPLF.


"Serangan pada 4 September adalah yang paling parah, terutama di desa Chenna Teklehaymanot. Anak-anak, ibu-ibu dan bahkan sesepuh agama juga menjadi sasaran," kata pejabat setempat kepada Associated Press.


Kepala dinas kesehatan setempat memperkirakan korban bisa bertambah, sekitar 200 orang. Pasukan TPLF disalahkan atas pembunuhan yang disertai penjarahan dan perusakan rumah warga.


TPLF menolak dituduh membunuh warga sipil

https://twitter.com/reda_getachew/status/1435632770122911754?s=20


Para pejuang TPLF telah mengalami kebangkitan sejak Juni, ketika mereka berhasil mengambil alih ibukota Mekelle, wilayah Tigray. Sejak itu, mereka telah memperluas serangan mereka ke wilayah Afar dan Amhara. Ratusan ribu warga sipil terpaksa mengungsi dan ancaman krisis kemanusiaan meningkat.


Para pemimpin TPLF sebelumnya bersikeras bahwa pejuang mereka tidak pernah menargetkan warga sipil. Dalam laporan terbaru, Getachew Reda, salah satu pemimpin TPLF, mengatakan dia menolak tuduhan itu.


Dilaporkan dari situs web Al Jazeera, Reda mengatakan dalam sebuah posting media sosial "kami dengan tegas menolak klaim keterlibatan pasukan kami dalam pembunuhan warga sipil." Mereka juga menerbitkan pernyataan yang menolak laporan wartawan, yang diterbitkan oleh Reuters.


Pemimpin TPLF mengatakan dia akan melakukan "penyelidikan independen" atas laporan pembunuhan oleh pejuang TPLF terhadap warga sipil. Komisi Hak Asasi Manusia Ethiopia, juga prihatin dengan laporan tersebut. Mereka mengatakan bahwa penegak hukum meluncurkan penyelidikan untuk menemukan kebenaran.